Mengenal 3 Bentuk Kitab Kuning
Dalam tradisi pesantren atau dalam majelis-majelis ilmu -seperti halnya di Majelis Ilmu Ash-Shofy- ada namanya kitab kuning. Kitab kuning ini bukan sekedar kitab yang warna kertasnya kuning keemasan sebagai simbol keemasan dari ilmu pengetahuan, akan tetapi ada perjalanan panjang dalam proses mewariskan ilmu-ilmu dari generasi salaf ke generasi berikutnya. Dipelajari dan diajarkan lintas zaman dan generasi.
Dalam mempelajari kitab kuning sebaiknya para santri atau jamaah perlu mengenali beberapa bentuk yang umum dari kitab kuning itu sendiri. Kitab kuning ini banyak bentuknya, dari sisi pengembangannya setidaknya ada tiga bentuk yang sering kita jumpai. tiga bentuk ini yaitu: matan (متن), syarah (شرح), dan hasyiah (حاشية).
Matan adalah kitab yang paling dasar dari tiga bentuk ini. Ia menjadi dasar bagi pengembangan dua kitab berikutnya. Sebagai kitab dasar, matan bahasanya ringkas akan tetapi sarat dengan muatan ilmu. Sehingga sangat cocok dikaji di tahap awal belajar. Di samping itu kitab matan ini juga paling cocok untuk dihafal.
Di antara contoh matan adalah:
Matan Sanusi atau dikenal dengan nama Matan Ummul Barahin (أم البراهين) dalam bidang Tauhid
Matan Abi Syuja’ atau juga dikenal dengan nama Matan Ghayah (الغاية) dan Matan Taqrib (التقريب) dalam bidang Fiqih.
Matan Ajurrumiah dalam bidan Nahwu, dan lain-lain.
Syarah adalah pengembangan dari kitab matan. Syarah secara bahasa adalah penjelasan. Syarah ini menjelaskan isi kandungan dari kitab matan, baik dari sisi bahasa maupun istilah, kaifiyah atau tata cara, pendalilan, uraian contoh dan lain-lain.
Di antara contohnya:
Matan Sanusi disyarahkan oleh Al-Hudhudi,
Matan Abi Syuja’ disyarahkan oleh banyak ulama semisal Fathul Qarib (فتح القريب), Kifayatul Akhyar (كفاية الأخيار), Al-Iqna (الإقناع), dan lain-lain.
Hasyiah adalah bentuk lain dari penjelasan terhadap suatu kitab, baik kitab ini matan maupun syarah. Berupa catatan-catatan yang mengomentari segala aspek yang dianggap penting menurut penulisnya. Baik dari sisi bahasa (nahwu, sharaf, balaghah-nya), pendalilannya, perdebatan para ahli, bahkan terkadang penulis juga mengkritik matan maupun syarah tersebut. Semua dibahas secara mendalam dan menyeluruh.
Di antara contoh kitab Hasyiah:
Hasyiah Syarqawi terhadap Syarah Al-Hudhudi.
Hasyiah Al-Bajuri terhadap Syarah Fathul Qarib.
Hasyiah Taswiqul Khalan terhadap Syarah Mukhtasahar Jiddan.
Sungai Duren, 17 Syawal 1447/6 April 2026
Ust. Ahmad Farid Wajdi, MA.
Mujiz Majelis Ilmu Ash-Shofy

Komentar
Posting Komentar