Pentingnya Terjemah Perkata dalam Memahami Kitab Kuning (Pendekatan I’rab di Majelis Ash-Shofy)
Dalam tradisi pengajian kitab kuning, ada semacam metode yang mungkin sering dianggap sederhana, tapi sebenarnya sangat mendasar dan menentukan: yaitu menerjemahkan teks Arab secara perkata dengan pendekatan i’rab.
Di majelis ilmu Ash-Shofy, metode ini menjadi kebiasaan yang terus dijaga. Setiap kali membaca kitab, tidak langsung diberikan makna global, tetapi diawali dengan mengurai susunan kalimatnya:
- Mubtada: bermula…
- Khabar: yaitu…
- Fa’il: oleh…
- Maf’ul bih: akan… dan seterusnya.
Barulah setelah itu masuk ke
penjelasan makna dan kandungan ilmiahnya.
Timbul pertanyaan, mengapa harus
dimulai dari perkata?
Kitab kuning bukan sekadar
teks biasa. Ia ditulis dengan struktur bahasa Arab yang padat, ringkas, dan
sering kali tanpa harakat. Kesalahan kecil dalam memahami posisi kata bisa
berakibat pada kesalahan besar dalam memahami maksud penulis.
Sehingga dii sinilah
pentingnya pendekatan i’rab.
Dengan menerjemahkan perkata
berdasarkan kedudukannya dalam ilmu nahwu, kita tidak hanya “tahu arti”,
tetapi juga paham susunan dan arah makna kalimat.
Sebagai contoh sederhana:
الْعِلْمُ نُورٌ
Mubtada: al-‘ilmu –
bermula ilmu
Khabar: nurun – yaitu
cahaya
Dari sini kita bukan hanya
tahu bahwa “ilmu itu cahaya”, tetapi juga memahami bahwa “ilmu” adalah pokok
pembicaraan, dan “cahaya” adalah penjelasnya.
Cara ini mungkin terasa
lambat di awal, tetapi justru di situlah letak kekuatannya.
Pertama, sangat membantu bagi penuntut ilmu yang
masih dalam tahap belajar membaca kitab. Mereka diajak mengikuti alur kalimat
secara runtut, tanpa melompat-lompat.
Kedua, cara ini sekaligus melatih kepekaan
terhadap ilmu nahwu dan sharaf. Tanpa disadari, pelajar akan
terbiasa mengenali fungsi kata dalam setiap kalimat.
Ketiga, menjaga kita dari kesalahan dalam
memahami teks. Dalam bahasa Arab, tertukarnya fa’il dan maf’ul bih
saja bisa membalik makna.
Dan yang tidak kalah
penting, cara ini menjaga adab terhadap kitab: kita membaca sebagaimana susunan
yang ditulis oleh pengarangnya, bukan sekadar mengambil kesimpulan secara
bebas.
Di majelis Ash-Shofy,
pembacaan kitab selalu dimulai dengan pola ini. Misalnya pada kalimat:
وَأَرْكَانُ الْوُضُوءِ سِتَّةٌ
Wawu: dan
Arkanu: mubtada – bermula
rukun-rukun
al-wudu’: mudhaf ilaih –
bagi wudhu’
sittatun: khabar – yaitu
enam
Barulah setelah susunan ini
jelas, makna umum disampaikan: “Dan rukun-rukun wudhu itu ada enam.”
Dari sini kemudian dibuka
pembahasan yang lebih luas.
Sebagai bagian dari ikhtiar
untuk memudahkan para penuntut ilmu dalam memahami metode ini, saya telah menyusun
sebuah buku panduan berjudul:
إعانة الطلاب في رموز الإعراب
Kitab ini ditulis dengan
menggunakan aksara Arab Melayu, agar lebih dekat dengan tradisi pembelajaran di
Nusantara. Di dalamnya dijelaskan simbol-simbol i’rab, cara membaca,
serta panduan praktis dalam menerjemahkan kitab kuning dengan metode perkata.
Pada akhirnya menerjemahkan
perkata dengan pendekatan i’rab bukan sekadar metode teknis, tetapi
bagian dari proses tarbiah ilmiah dalam memahami turats (warisan
keilmuan Islam).
Ini melatih kesabaran,
ketelitian, dan ketundukan terhadap teks. Dan dari sinilah, insya Allah, akan
lahir pemahaman yang lebih kokoh dan tidak mudah goyah.
Sungai Duren,
Senin, 20 April 2026/2
Dzulqa’dah 1447
Ahmad Farid Wajdi, MA.
Mujiz Majelis Ilmu
Ash-Shofy


Komentar
Posting Komentar